Kalahari Zebra has invited you to be his contact.

DeclineAccept
Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Seorang ibu yang bernama Peradaban, melahirkan anak kembar yaitu Baca dan Tulis. Maka apabila ingin menjadi bagian atau keluarga dari Peradaban, marilah membaca dan menulis

humaniora

Blog EntryAug 20, '08 6:55 AM
for everyone

Relevansi Paham Marxis

Akhir perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya pertain komunis yang memerintah Rusia dan Eropa timur sekaligus merupakan kemenangan bagi kaum kapitalis penganut pasar bebas. Saat itu banyak pihak yang beranggapan bahwa peristiwa tersebut juga menunjukkan kegagalan teori Marx. Sedangkan partai-partai komunis yang masih bertahan seperti di China, Vietnam, dan Kuba tidak dapat diperhitungkan sebagai ancaman bagi hemegony kapitalisme global. Bahkan negara-negara yang masih menganut paham komunis ini dipaksa untuk menerima logika ”pasar” di negaranya yang disusung kaum kapitalis. Lebih parah lagi di Korea utara di mana kekuasaan ekonomi dan politik berada di bawah kendali negara justru rakyatnya mengalami kelaparan. Hal ini seolah mempertegas bahwa paham komunis tidak lagi dapat dijadikan sebagai suatu alternatif.


Namun sepuluh tahun setelah perang dingin usai, paham Marxis mengalami pembaharuan. Setidaknya ada dua alasan mengapa hal ini terjadi: Pertama, setelah runtuhnya Uni Soviet yang merupakan pukulan telak bagi para penganut Marx, para pemikir Marxis banyak melakukan kritik dan pembaharuan terhadap teori Marx. Tujuannya adalah untuk menciptakan suatu pemikiran baru yang lebih realistis daripada utopia Karl Marx mengenai tatanan masyarakat yang ideal. Kedua, barang kali justru yang paling penting, Teori Sosial Marx sebenarnya memiliki kekuatan dalam hal analisis krisisnya. Para penganut kapitalisme ortodox beranggapan bahwa pasar akan bergerak menuju keseimbangan dan kestabilan, namun pada prakteknya hal itu tidak pernah terjadi. Kejatuhan pasar saham pada tahun 1987 dan krisis ekonomi yang terjadi di Asia pada tahun 1990an menunjukkan bahwa paham kapitalis pun masih rentan terhadap gangguan. Menurut Marx gangguan-gangguan tersebut justru merupakan bagian yang inheren dengan sistem itu sendiri.


Secara utuh mungkin paham Marx akan sangat sukar untuk bangkit kembali, namun banyak konsep-konsepnya yang masih sangat relevan untuk digunakan sebagai alat analisis yang baik terhadap gejala-gejala sosial yang terjadi khususnya dalam politik internasional. Menurut Marxis, untuk memahami politik dunia terlebih dahulu harus memahami proses-proses yang terjadi di dalam kapitalisme dunia. Bahkan lebih jaum Marxis berpendapat bahwa efek dari kapitalisme global akan menyebabkan si kaya semakin kaya atas sumbangan dan hasil kerja kaum miskin dan pekerja. Menurut UNDP pada laporannya tahun 1996, kekayaan 358 orang milyuner dunia sama dengan income seluruh penduduk paling miskin dunia yang berjumlah 45% dari populasi penduduk dunia.

 

Dalam bahasa Marx “Akumulasi kekayaan di salah satu titik pada saat yang sama merupakan akumulasi kesengsaraaan di sisi lainnya”.
Elemen-elemen Esensial dari Teori Politik Dunia Kaum Marxis
Pemikiran-pemikiran Marx sangatlah banyak dan seringkali berubah seiring waktu. Hal ini menyebabkan banyak pnerus pemikirannya yang memiliki penafsiran yang berbeda-beda bahkan kontradiktif. Banyak pemikir yang mengklaim idenya dikembangkan secara langsung dari ajaran Marx. Dalam hal teori politik dunia setidaknya ada empat aliran utama yang masing-masing memiliki elemen-elemen esensial tersendiri yang memiliki pengaruh tersendiri terhadap sistem politik dunia. Keempat aliaran tersebut adalah teori sistem dunia, paham Gramci, teori kritis, dan Marxisme baru.


Keempat aliran teori tersebut berpendapat bahwa sistem sosial dunia hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan. Dalam mempelajari sistem sosial dunia sebagai suatu kesatuan, bagi golongan ini pembagian dalam beberapa bidang disiplin ilmu yaitu sejarah, filsafat, ekonomi, ilmu politik, sosiologi dan hubungan internasional justru tidak mendatangkan suatu manfaat karena satu disiplin ilmu saja tidak akan dapat memahami fenomena yang ada tanpa sudut pandang lainnya. Sistem sosial dunia harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh. Dalam ”Magnum Opus” volume satu, Karl Marx menyatakan bahwa, untuk memahami sistem sosial dunia maka secara metodologi dapat dimulai dari hubungan sosial yang paling sederhana kemudian menigkat pada sistem hubungan sosial yang lebih komples dan begitu seterusnya. Namun kebutuhan untuk melakukan operasionalisasi terhadap konsep sistem politik dunia yang total menuntut para ahli teori Marxis untuk malampaui batasan yang merupakan karakteristik disiplin ilmu pengetahuan sosial kontemporer dan membuat suatu pemahaman yang sesuai mengenai dinamika politik dunia.


Elemen pemikiran Marxis lain dalam konteks ini adalah konsep sejarah materialis yang menyatakan bahwa perubahan sejarah yang terjadi tidak lain adalah refleksi dari perkembangan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu perekonomian merupakan motor penggerak bagi perubahan atau perkmbangan masyarakat. Dinamika utama dalam konsep ini adalah hubungan yang terjadi antara tata cara dan sumberdaya produksi (tekhnologi, buruh, dan peralatan) serta relasi organisasi produksi (struktur organisasi, relasi dengan pemerintah, masyarakat). Secara bersama-sama kedua hal ini membentuk dasar bagi perekonomian suatu masyarakat. Seiring dengan tata cara produksi yang berkembang, sebagai contoh dengan adanya kemajuan teknologi, maka akan ada penyesuaian baru terhadap relasi produksi yang selama ini berlaku. Hal ini akan mendorong pada perubahan dasar ekonomi masyarakat dan perubahan sosial. Perubahan dasar perekonomian rakyat akan mengarah pada perubahan peraturan dan superstruktur politik.

Dasar Superstruktur 

Kelas memainkan peran utama dalam analisis Marxis. Sebaliknya kaum liberal berpendapat bahwa terdapat hubungan sosial yang harmonis antar berbagai kelompok sosial,Marxis berpendapat bahwa masyarakat terbagi dalam konflik antar kelas. Dalam Comunist Manifesto Marx dan Engel mengatakan bahwa sejarah masyarakat selalu diwarnai dengan konflik antar kelas contohnya seperti borjuis dan proletar. Bagi Marx politik dunia tidak untuk diintepretasikan saja namun untuk dirubah. Marx sangat memperhatikan faktor-faktor pendorong emansipasi. Perhatian Marx ini bukan merupakan suatu jastifikasi terhadap suatu fenomena sosial yang dapat menjadi suatu kepercayaan jangka panjang atau dogma. Namun Marx berpendapat bahwa setiap argumen.

Your cOmment"s Here! Hover Your cUrsOr to leave a cOmment.

 


Blog EntryAug 20, '08 6:49 AM
for everyone

Banyak orang yang salah mengartikan kata KIRI. Khususnya pengertian dalam khazanah politik. Apalagi dalam masa rezim Orde Baru. Banyak kata-kata yang disalah artikan dengan tujuan melanggengkan kekuasaan. KIRI disamakan artinya dengan komunis. Untuk menghindari pembodohan, mari kita telusuri darimana asalnya kata KIRI itu.

            Dahulu, abad ke-18 terjadi revolusi Perancis waktu itu yang berkuasa adalah kelas feodal yang terdiri dari kaum bangsawan yang dipimpin oleh raja atau kaisar dan kaum agamawan Katolik yang dipimpin oleh Paus. Dengan keberhasilan Revolusi Industri yang berawal di Inggris, maka di Perancis muncul suatu masyarakat baru, yaitu para pedagang dan para pemilik industri kecil dan menengah. Mereka bersatu dengan rakyat kecil yang menjadi pekerja di pabrik-pabrik serta industri, perdagangan dan lain-lain. Kelas masyarakat baru ini menuntut berbagai fasilitas dan kemudahan dari penguasa demi memperlancar usahanya. Mereka memerlukan lahan sedangkan semua tanah adalah milik kaum feodal. Mereka menentang pajak sedang kaum feodal hidupnya adalah dari hasil pajak.

            Demikianlah, berbagai kepentingan yang berlawanan antara kaum feodal dengan kelas masyarakat baru itu. Pada akhirnya terjadilah pergolakan dan pertentangan yang menimbulkan suatu revolusi besar yang dinamakan Revolusi Perancis. Dalam proses revolusi tersebut, untuk  menghindari kekalahan, para penguasa (raja dan pemerintahannya) menempuh jalan perundingan dengan membentuk suatu dewan bersama yang disebut Générale Assemble.

            Dalam sidang dewan tersebut, kaum feodal disediakan kursi-kursi mewah dan ditempatkan di sebelah kanan pimpinan sidang. Sedangkan para pedagang, pemilik pabrik dan rakyat pekerja duduk di atas kursi-kursi kayu dan ditempatkan disebelah kiri pimpinan sidang. Sejak saat itu, rakyat yang terdiri dari semua unsur masyarakat baru diejek oleh kaum feodal dengan sebutan golongan KIRI atau orang-orang KIRI.

            Ejekan atau julukan demikian muncul kembali di Eropa pada pertengahan abad ke-19. Ketika itu kaum feodal telah pudar. Kekuasaanya telah hilang dan beralih ke tangan para pedagang dan pemilik pabrik yang disebut kaum kapitalis (pemilik modal) atau disebut juga kaum borjuis. Kelas masyarakat baru ini telah meninggalkan rekan seperjuangannya dalam Revolusi Perancis, yaitu rakyat pekerja.

            Kepentingan kaum kapitalis adalah memberikan upah sekecil mungkin kepada kelas pekerja untuk memperbesar keuntungan yang akan dijadikan modal bagi perusahaan-perusahaan baru. Sedangkan kaum pekerja menuntut kenaikan upah dan fasilitas lain, seperti cuti, kesehatan, makanan, dan lain-lain.

            Kaum kapitalis atau kelas borjuis seringkali memberi julukan kaum KIRI kepada kelas pekerja. Lama-kelamaan bukan saja kelas pekerja yang disebut kaum KIRI tetapi juga kelas pengangguran, petani kecil, pedagang kecil, dan rakyat kecil lainnya. Akhirnya ketika kaum kapitalis dan kelas borjuis sudah sedemikian kaya dan berkuasa maka semua rakyat miskin, melarat, dan tertindas, jika mereka menuntut sesuatu yang akan membahayakan kekuasaan dan kekayaan modalnya, akan dijuluki dengan sebutan KIRI.

            Jadi KIRI itu bukan komunis. Tetapi komunis boleh saja menyebut dirinya KIRI sepanjang mereka memperjuangkan nasib rakyat. Karena sebenarnya dari perkataan KIRI itu adalah rakyat yang memperjuangkan nasibnya. Karena itulah Bung Karno mengatakan : “KIRI itu berarti berkiblat pada kepentinagn rakyat”. Jadi kaum KIRI itu adalah kaum yang berjuang untuk kepentingan rakyat, siapa saja, termasuk anda.(Gun)

           


Yang tersayang anak lelakiku,
        Aku menulis padamu agar kamu tahu, bahwa aku masih hidup. Aku menulis pelan agar kamu membaca dengan pelan pula. Bila kamu suatu kali pulang, kamu tak akan mengenali rumahmu lagi. Kami sudah berpindah rumah. Bahkan mesin cuci sudah dipasang di rumah baru itu. Aku sudah menaruh selusin baju di mesin cuci itu, tapi tak melihatnya lagi. Ayahmu sudah berganti pekerjaan. Dia membawahi 500 orang. Ayahmu bekerja sebagai tukang potong rumput di kuburan. Kakak perempuanmu kemarin melahirkan bayi. Aku belum tahu apakah bayinya laki-laki atau perempuan. Untuk itu aku belum bisa menulisakan padamu, apakah kamu sekarang sudah menjadi paman atau tante.
       Minggu lalu di sini hanya dua kali turun hujan. Pertama, tiga hari berturut-turut. kedua, empat kali berturut-turut. Waktu itu ada geledek, kontan satu ayam kita bertelur empat kali
       Aku kirim sebuah rompi untukmu. Pastinya kamu sudah merindukannya. Tapi kancingnya aku lepas, agar biaya kirimnya lebih murah. Kancing-kancing itu aku masukkan pada saku atas sebelah kanan.
       Pada hari Selasa, semua warga di sini disuntik karena mulai musim tanam stroberi yang biasanya disemprot anti hama

Salam Rindu
Ibumu

NB : Aku sebenarnya ingin menyisipkan uang untukmu, sayangnya aku sudah terlanjur mengelem amplop surat.


* ) Disadur dari cerita Ricco Pedretti, seorang warga Swiss yang bertugas sebagai sopir bus pariwisata untuk beberapa bulan di Lisabon, Portugal.

Blog EntryAug 9, '08 2:03 PM
for everyone
dengan rahmat tuhan
yang maha tak mengetahui
banca rotto mengeluarkan uang
sebagai alat penipuan yang sah

alias...korupsi untuk para mafioso
vivere pericoloso untuk indonesia


* ) Di Bandung ada istilah yang lazim untuk menyebut maling yaitu "bangsat". Misalnya jika dikatakan aya bangsat berarti ada maling atau si bangsat berarti si maling.
    Ya...anda benar !!! Tak salah lagi, kalimat di atas adalah plesetan dari tulisan yang tertera pada lembaran uang kertas. Selamat menikmati...sampai jumpa pada puisi berikutnya.

Blog EntryAug 7, '08 4:40 AM
for everyone
Ketika aku di Kuala Lumpur pada bulan Juni 2005, aku menginap di sebuah hotel di pusat kota. Setelah makan malam pada hari ke-dua di hotel, aku keluar untuk sekedar merokok karena di dalam terlalu ramai tamu-tamu yang sedang makan.
Tak berapa lama aku berdiri di pinggir jalan yang agak lengang samping hotel itu, ada seekor kucing yang sedang menyeberang jalan dengan santainya. Sempat aku berpikir bahwa kalau di Inggris orang memanggil kucing dengan "push...push...push...", dan apakah di sini (Malaysia) sama seperti itu juga ?
Akhirnya aku coba panggil kucing itu "cihk...chik...chik...", panggilan yang lazim kita tahu di daerah kita atau Indonesia umumnya kepada hewan itu. Tak kusangka kucing itu berhenti berjalan dan menoleh. Aku jadi tertawa sendiri dalam kesunyian dan memang hanya ada aku di situ. Eeh...rupanya kucing- kucing serumpun juga...kucing melayu !!!
Terlepas dari hal ini, aku "angkat topi" kepada Dr.Mahathir Mohamad yang telah berjasa membangun Malaysia hingga menjadi seperti sekarang ini. Jauh lebih maju dan makmur dari Indonesia (begitu aku menyebutnya).

Blog EntryAug 4, '08 11:36 AM
for everyone
para pendengar yang budiman
di mana pun anda berada
bersama kami radio republik lapindonesia

diberitakan...
pemerintah malangsia akan segera membangun
menara petromax
di pusat kota kuala porong lumpur
guna menggantikan kebutuhan listrik para penduduk

seiring dengan hal itu
direncanakan pula
pembangunan kawasan grand gambling residence
dengan menjadikan rumah-rumah terkubur
dan kuburan-kuburan terkubur lagi
sekian...

Blog EntryAug 4, '08 5:32 AM
for everyone

di rumah ini aku dilahirkan
di rumah ini aku dibesarkan
aku tak akan mati
                   di rumah gadang
                   joglo
                   limas
                   tongkonan
                   honai
dan aku hidup pun
tak akan bisa bernaung di bawah atapnya


Blog EntryAug 4, '08 3:00 AM
for everyone
tak ada tali
akar pun jadi

tak ada nasi
akar pun jadi

itulah si tiwul
umbi
dan gaplek

tak ada "nasional"
nasi aking pun jadi



4 Agustus 2008
Ruang TV Ultimus - Bandung



Blog EntryAug 1, '08 7:41 AM
for everyone
    Waktu masih tinggal di Malang, Jawa Timur, aku punya teman akrab seorang pelukis yang bohemian (begitu aku menyebutnya), namanya Jono. Dia adalah mahasiswa Unibraw jurusan Sastra Inggris.
    Cerita ini bermula pada bulan Oktober 1999, tapi aku lupa tepat tanggalnya. Dalam obrolan malam di sebuah kafe dekat kampus ITN (sekitar Jl.Bendungan Sutami, Sumbersari), kami bercerita banyak tentang seni lukis dan sejarahnya. Aku tahu Jono seorang pelukis yang sangat cerdas dan kreatif, makanya aku banyak bertanya kepadanya tentang seni ini. Begitu fasihnya Jono menceritakan fenomena dan perkembangan seni lukis dunia terutama dari aliran Impressionisme.
    Jono bilang "Impressionisme adalah suatu gerakan seni dari abad-19 yang di mulai dari Paris pada tahun 1860-an". Lalu secara spontan aku menambahkan (karena aku juga suka baca sejarah umum) "Ya...nama impresionisme itu kan diambil dari judul sebuah lukisan karya Claude Monet (seorang pelukis Impresionis Perancis yang terkenal di seluruh dunia) yaitu Impression, soleil levant, dan aku sangat mengagumi karya-karya pelukis Impressionis terutama Claude Monet.
    Mendengar apa yang aku katakan di atas, Jono langsung memotong omonganku dan mengatakan dengan aksen Jawa yang sangat kental "Ah...kamu ini Gun, mengaku pecinta karya pelukis ternama dunia tapi kamu sendiri nggak pernah ngelukis atau mau belajar ngelukis, dan kulihat di kamar kost-mu nggak ada satupun terpajang lukisan lengkap dengan frame-nya, kamu gak punya satupun, gitu kok katanya pecinta lukisan"
    Kepalaku sudah pening mendegarnya ditambah lagi dengan ramainya tawa kawan-kawan  yang juga ikut ngobrol dengan kami, karena mendengar perkataan Jono itu. Karena dalam "posisi sulit dan terdesak" segera aku katakan pada Jono dan kawan-kawanku itu "Lha...Jon, mencintai itu kan nggak harus memiliki". Ini pula yang menambah riuhnya gelak tawa mereka semua termasuk orang-orang yang ada di kafe itu walaupun kami tak mengenalnya.
    Waktu itu sudah jam 23.47, tetapi kafe semakin ramai pengunjungnya. Dadaku sudah sesak karena terlalu banyak merokok. Akupun tambah secangkir kopi lagi...nikmat bung !!!
   

Blog EntryJul 31, '08 1:57 PM
for everyone

Perkawinan Sultan Banjar dengan Puteri-puteri Dayak

Sejak jaman dahulu telah terjadi hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan serta toleransi yang tinggi antara suku Banjar dan suku-suku Dayak. Dari tradisi lisan suku Dayak Ngaju dapat diketahui, isteri Raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawai beretnis Dayak Ngaju. Sedangkan isteri kedua Raja Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan Suku Dayak Maanyan, berasal dari etnis mereka. Jadi perempuan Dayaklah yang menurunkan raja-raja Banjar yang pernah ada. Dalam Hikayat Banjar menyebutkan salah satu isteri Raja Banjar ketiga Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, yaitu puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim putri ini lahir Marhum Panembahan yang kemudian naik tahta dengan gelar Sultan Mustainbillah. Putri Dayak berikutnya adalah isteri Raja Banjar kelima Sultan Inayatullah, yang melahirkan Raja Banjar ketujuh Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah Al-Wazikoebillah (putera Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang putri Dayak berdarah campuran Tionghoa yaitu Nyai Dawang.

Sultan Muhammad Seman

Salah satu sayap militer Pangeran Antasari yang terkenal tangguh dan setia, adalah kelompok Suku Dayak Siang Murung dengan kepala sukunya Tumenggung Surapati. Hubungan kekerabatan sang pangeran melalui perkawinannya dengan Nyai Fatimah yang tak lain adalah saudara perempuan kepala suku mereka, Surapati. Dari puteri Dayak ini lahir Sultan Muhammad Seman yang kelak meneruskan perjuangan ayahnya sampai gugur oleh peluru Belanda tahun 1905. Dalam masa perjuangan tersebut, Muhammad Seman juga mengawini dua puteri Dayak dari Suku Dayak Ot Danum. Puteranya, Gusti Berakit, ketika tahun 1906 juga mengawini putri kepala suku Dayak yang tinggal di tepi sungai Tabalong. Sebagai wujud toleransi yang tinggi, ketika mertuanya meninggal, Sultan Muhammad Seman memprakarsai diselenggarakannya Tiwah, yaitu upacara pemakaman secara adat Dayak (Kaharingan).

Puteri Mayang Sari

Putri Mayang Sari yang berkuasa di Jaar-Singarasi, kabupaten Barito Timur adalah puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Maanyan. Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. Itu sebabnya ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar, kabupaten Barito Timur.(Marko Mahin, 2005).

Perang Banjar

Eratnya persahabatan Banjar-Dayak, juga karena kedua suku ini terlibat persekutuan erat melawan Belanda dalam Perang Banjar. Setelah terdesak di Banjarmasin dan Martapura, Pangeran Antasari beserta pengikut dan keturunannya mengalihkan perlawanan ke daerah Hulu Sungai dan sepanjang sungai Barito sampai ke hulu Barito, dimana terdapat beragam etnis Dayak terlibat di dalamnya. Perang antara koalisi etnis Banjar bersama etnis Dayak di satu pihak versus Belanda dan antek-anteknya di pihak lain, sebagaimana watak peperangan pada umumnya, jauh lebih banyak duka daripada sukanya. Kedua suku serumpun ini sudah merasa bersaudara senasib sepenanggungan, dimana harta benda, jiwa raga, darah dan airmata sama-sama tumpah di tengah api perjuangan mengusir penjajah. Beberapa pahlawan perang Banjar dan perang Barito dari etnis Dayak :

·         Tumenggung Surapati, meninggal 1904 dimakamkan di Puruk Cahu, Murung Raya

·    Panglima Batur, dari suku Dayak Siang Murung dimakamkan di Komplek Makam Pangeran Antasari, Banjarmasin Utara, Banjarmasin

·         Panglima Unggis, dimakamkan di desa Ketapang, Kecamatan Gunung Timang, Barito Utara

·        Panglima Sogo, yang turut menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda 26 Desember 1859 di Lewu Lutung Tuwur, makamnya di desa Malawaken, Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.

·    Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew), panglima wanita yang pernah menyerang Fort Muara Teweh tahun 1864-1865, makamnya di desa Malawaken (Teluk Mayang), Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.

·        Panglima Wangkang, dari suku Dayak Bakumpai di Marabahan, putera dari Damang Kendet dan ibunya wanita Banjar dari Amuntai

·      Perang Montallat tahun 1861 juga menyebabkan gugurnya dua putera Ratu Zaleha yang dimakamkan di desa Majangkan, kec. Gunung Timang, Barito Utara.

Dammung Sayu

Dammung Sayu merupakan seorang pemimpin masyarakat suku Dayak Maanyan Paju Sapuluh yang telah berjasa dalam membantu salah seorang kerabat raja Banjar yang bersembunyi di wilayahnya dari pengejaran pihak Belanda. Karena itu akhirnya Belanda membumihanguskan perkampungan suku ini yang terletak di Desa Magantis, Tamiang Layang, Dusun Timur, Barito Timur. Pihak kerajaan Banjar yang berjuang melawan penjajah Belanda mengangkat Dammung Sayu sebagai panglima dengan gelar Tumenggung dan memberikan seperangkat payung kuning dan perlengkapan kerajaan.

Sangiang

Toleransi antara suku Banjar dan Dayak, juga dapat dilihat dari sastra suci suku Dayak Ngaju, Panaturan. Digambarkan di sana, Raja Banjar (Raja Maruhum) beserta Putri Dayak yang menjadi isterinya Nyai Siti Diang Lawai adalah bagian leluhur orang Dayak Ngaju. Bahkan mereka juga diproyeksikan sebagai sangiang (manusia illahi) yang tinggal di Lewu Tambak Raja, salah satu tempat di Lewu Sangiang (Perkampungan para Dewa). Karena Sang Raja beragama Islam maka disana disebutkan juga ada masjid.(Marko Mahin, Urang Banjar, 2005.

Balai Hakey

Secara sosiologis-antropologis antara etnis Banjar dan Dayak diibaratkan sebagai dangsanak tuha dan dangsanak anum (saudara tua dan muda). Urang Banjar yang lebih dahulu menjadi muslim disusul sebagian etnis Dayak yang bahakey (berislam), saling merasa dan menyebut yang lain sebagai saudara. Mereka tetap memelihara toleransi hingga kini. Tiap ada upacara Ijambe, Tiwah dan sejenisnya, komunitas Dayak selalu menyediakan Balai Hakey, tempat orang muslim dipersilakan menyembelih dan memasak makanannya sendiri yang dihalalkan menurut keyakinan Islam.

Intingan dan Dayuhan

Toleransi antara suku Banjar dengan suku Dayak Bukit di pegunungan Meratus di daerah Tapin di Kalimantan Selatan, juga dapat dilihat pada mitologi suku bangsa tersebut. Dalam pandangan mereka, Urang Banjar adalah keturunan dari Intingan (Bambang Basiwara), yaitu dangsanak anum (adik) dari leluhur mereka yang bernama Dayuhan (Ayuhan). Meskipun kokoh dengan kepercayaan leluhur, suku Dayak Bukit selalu menziarahi Masjid Banua Halat yang menurut mitologi mereka dibangun oleh Intingan, ketika saudara leluhur mereka tersebut memeluk agama Islam.

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

Blog EntryJul 27, '08 11:22 PM
for everyone
    Bentuk pengejawantahan bahasa yang paling murni sebenarnya ada dalam puisi. Dalam puisi, bahasa lepas dari berbagai beban makna yang tadinya telah terdapat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam puisi, penulis dan pembaca meletakkan bahasa dalam hakikatnya yang fundamental. Kata-kata dalam puisi menemukan kebebasan dan otonominya karena ia tidak terjerat makna konvensional bahasa. Kategori baik dan buruk juga lebur dalam bahasa puisi. Tidak ada sebuah kata yang dinilai baik dan yang buruk. Bahasa benar-benar menemukan hakikat antologisnya.
    Hakikat bahasa sebagai puisi juga ditegaskan oleh Martin Heidegger. Dalam pandangannya, kebenaran hakikat bahasa sesungguhnya terdapat dalam puisi. Karena dalam puisi bahasa menemukan eksistensinya. Lebih jauh Heidegger menyatakan bahwa dimensi fundamental bahasa sebenarnya adalah diam. Ia menganggap bahwa bahasa verbal yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari bukan merupakan representasi realitas. Realitas yang sebenarnya tidak bisa direpresentasikan bahasa secara utuh. Sebab dalam bahasa verbal selalu ada reduksi dan distorsi. Dalam puisi hakikat bahasa terjelma secara utuh. Tidak ada reduksi, tidak ada distorsi, tidak ada beban makna, dan juga tidak ada tanggung jawab baik dan buruk.
    Itulah hakikat sebenarnya bahasa. Bahasa tidak dapat langsung merujuk kepada realitas. Beban makna baik dan buruk dalam bahasa bukanlah hakikat dari bahasa itu sendiri, melainkan makna yang dibebankan pada bahasa. Referensi yang selalu dialamatkan dalam bahasa juga bukan merupakan sifat dari bahasa, melainkan bentuk tanggung jawab yang dilimpahkan pada bahasa. Maka benar apa yang dikatakan oleh SCB, "kembalikanlah kata pada mantra itu sendiri".(Gun)

Blog EntryJul 27, '08 4:30 AM
for everyone

Mungkin rata-rata tak kurang dari kehidupan manusia dihabiskan dalam keadaan tertidur. Jika dihitung usia manusia pada umumnya maksimal 60 tahun, 15 tahun dilaluinya dalam keadaan tertidur. Apakah itu berarti manusia telah menyia-nyiakan 15 tahun yang dilalui dalam keadaan tertidur tersebut?

Apakah sesungguhnya manusia, sekurangnya seperempat dalam hidupnya, ada dalam dunia mimpi, dunia yang tak nyata? Di manakah kenyataan sebenarnya ada di dalam dunia tak nyata itu? Begitupun sebaliknya, di mana mimpi sebenarnya mengisi dan berperan dalam kehidupan kita yang nyata?

Tulisan tidak berpretensi terlalu jauh untuk masalah menarik tersebut. Namun, coba melihatnya dalam sebuah ekspresi artistik, yakni dari sebuah cerita pendek (cerpen). Lebih khusus lagi dari dua cerpen pengarang senior Putu Wijaya dan pengarang muda Noor H Dee (NHD).

Mimpinya Freud

Menurut Frued, mimpi merupakan penghubung antara kondisi bangun dan kondisi tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya semacam ”pelampiasan” dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan ketika manusia dalam keadaan terjaga.

Dalam cerpennya yang berjudul ”Mimpi”, dalam antologi cerpen Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (2008), NHD mencoba membalikkan logika mimpi. Mimpi yang semestinya disadari oleh alam ”tak sadar” kini menjadi pengalaman tak sadar dari alam ”sadar”. Tokoh ”Aku” lelaki dan ”Aku” perempuan di dalam cerpen NHD menyadari hal itu dalam cerpen NHD, ”Aku tahu saat ini aku sedang bermimpi” (hal 41).

Di dalam cerpen itu kedua tokoh ”Aku” mengalami mimpi yang sama. ”Aku” perempuan memberikan telinganya kepada ”Aku” lelaki. Dan ketika memberikan telinganya ”Aku” perempuan berkata, ”Ambillah sepasang telingaku ini, Sayang. Dengarlah segenap suara-suara yang aku pernah aku dengar di sepanjang perjalanan hidupku. Tentu saja suara serakmu juga tersimpan di sana. Sebab, bukankah kamu sering membisikkan kalimat sayang di telingaku?” (hal 41).

Namun ”Aku” lelaki mengingkari bahwa dirinya sering mengucapkan kata sayang kepada ”Aku” perempuan. Bahkan ”Aku” lelaki mengakui bahwa dia tak mengenal ”Aku” perempuan. Jadi, bagaimana mungkin dia mengucapkan kata sayang?

Pengingkaran ”Aku” lelaki ini ternyata diamini oleh ”Aku” perempuan yang di dalam mimpi tersebut bisa mendengar suara hati dari ”Aku” lelaki. ”Memang, memang kami tidak saling mengenal. Kami hanya sepasang menusia yang terperangkap di dalam dunia mimpi,” kata ”Aku” perempuan (hal 44).

Ketika keduanya terbangun dari mimpi, mereka terkejut karena ternyata mereka terbangun di atas ranjang yang sama. Keduanya kemudian bertanya bagaimana mereka bisa berada di tempat itu. Mereka merasa bahwa kamar tersebut bukan milik mereka berdua. Dan pertanyaan itu terjawab ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang gadis cilik berusia 10 tahun yang rambutnya dikepang dua masuk ke dalam kamar seraya menegur, ”Kenapa sih ayah dan ibu selalu bertengkar? Hari ini kita jadi kan ke rumah nenek yang di Bogor?” (hal 48).

Akhir cerita ini memberikan sebuah penjelasan yang kuat. Yang juga surprising, sebagaimana umumnya ending cerpen-cerpen Indonesia. Di mana mimpi yang dialami oleh kedua tokoh ”Aku” itu ternyata berkoneksi. Dan koneksi itu ternyata adalah refleksi dari koneksi atau hubungan mereka di alam nyata, alam yang sebenarnya.

Mimpi dalam nyata

Berbeda dengan cerpen yang ditulis oleh NHD di atas, dalam cerpen dengan judul yang sama, ”Mimpi” dalam antologi cerpennya, Gres (2005), Putu Wijaya justru menghadirkan ketaksadaran dalam kesadaran melalui tokoh utama cerita, Pian. Tokoh Pian ingin sekali bermimpi makan enak di restoran. Dan suatu kali Pian pergi menonton sebuah pertunjukan balet di TIM. Di tengah pertunjukan itu Pian tertidur. Pian bermimpi dijamu oleh seseorang yang seperti Idi Amin.

Waktu sadar Pian sudah tergolek di lantai. Teater Terbuka TIM sudah kosong. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Tinggal Pian sendirian. Untuk sesaat Pian terkesima. Tetapi, setelah menenangkan pikirannya, ia hampir berani menyimpulkan bahwa ia sebenarnya sedang dalam keadaan tak sadar, tetapi di alam mimpi (hal 40).

Apa yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalam cerpen ”Mimpi” karya NHD dan Putu Wijaya ini sesungguhnya merupakan refleksi dari kondisi masyarakat saat ini. Realitas kehidupan yang terjadi nyaris tak bisa dibedakan dengan dunia mimpi. Di dalam cerpen Gres-nya Putu Wikaya membuka dengan berita tentang seorang ayah yang memakan anaknya sendiri. Ia mengaku hal tersebut dilakukannya dalam mimpi.

Dahulu, peristiwa ayah memakan anak kandungnya sendiri, seperti dalam cerpen Putu Wijaya, hanya mungkin terjadi di dunia mimpi. Namun kini, ”produk” dunia mimpi itu bisa kita dapati dalam kehidupan nyata. Lalu, manakah dalam kehidupan kita yang sesungguhnya nyata dan manakah yang sesungguhnya mimpi? Atau sungguhkah, hidup ini sebenarnya hanyalah mimpi?(Gun)


Blog EntryJul 27, '08 3:00 AM
for everyone

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

Sejarah dan asal-usul

Cerita pendek berasal-mula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.

Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite lebih menyaran pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.

Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.

Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.

Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.

Cerita-cerita pendek modern

Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov.

Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.

Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.

Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.

Unsur dan ciri khas

Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.

Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya), komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik dan tokoh utama); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.

Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis.

Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuath cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.

Ukuran

Menetapkan apa yang memisahkan cerita pendek dari format fiksi lainnya yang lebih panjang adalah sesuatu yang problematic. Sebuah definisi klasik dari cerita pendek ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (hal ini terutama sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe "The Philosophy of Composition" pada 1846). Definisi-definisi lainnya menyebutkan baas panjang fiksi dari jumlah kata-katanya, yaitu 7.500 kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita pendek umumnya merujuk kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.

Cerita yang pendeknya kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction). Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita pendek digolongkan ke dalam novelette, novella, atau novel.

Genre

Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dll. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa liris dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru.

Cerita pendek terkenal

       (Gun)

Blog EntryJul 27, '08 2:42 AM
for everyone
            Dalam evolusinya, manusia mengalami "fajar" peradaban dan kerohanian tempat sastra ikut serta di dalamnya. Andaikata kehidupan atau pengertian hidup kita beri batas sejauh makna biologis, sudah jelas manusia dapat hidup tanpa sastra, asalkan ia cukup sandang, pangan, dan papan serta memiliki alat guna menangkal berbagai ancaman fisik. Sebatas ini sastra dan seni tidak dibutuhkan kehidupan. Sastra dan seni tidak membentuk darah daging atau sel-sel tubuh sebagai syarat dasar hidup biologis.
           Makanan dan sarana pelindung fisik jelas merupakan kebutuhan kita. Pada masa prasejarah, manusia bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain dan terkadang disertai perkelahian, semata-mata terkonteks dengan kedua kebutuhan itu. Kedua kebutuhan itu betul-betul diusahakan dan diperjuangkan.
           Pada sela-sela perjuangan memenuhi kebutuhan jasmani itu, manusia mengembangkan kehidupan rohaninya. Memang, tampaknya aspek ini, khususnya sastra dan seni, tidaklah mendesak. Akan tetapi, manusia tidak kuasa menolak berbagai cetusan rohaniah yang terus-menerus mengalir bersama perjalanan hidupnya. Dalam evolusinya, manusia mengalami "fajar" peradaban dan kerohanian tempat sastra ikut serta di dalamnya.
           Pada awal uraian, C. Day Lewwis (dalam Poetry for You, Basil Blacwell, 1960) mengungkapkan fenomena lahirnya puisi sebagai wujud cetusan rohani yang paling mendasar. Data ini menunjukkan manusia tidak terpuaskan hanya dengan mempertahankan kehidupan jasmaninya. Manusia membutuhkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan jasmaninya. Kebutuhan ini memang tidak diusahakan dengan kucur peluh, tetapi manusia tidak mampu menampik kehadiran dan kelahirannya sebab kelahirannya merupakan konsekuensi dari hasil evolusi rohani.
           Secara sempit, orang masih dapat membantah peran sastra sebagai bagian tidak terpisahkan dalam membangun hidup manusia seutuhnya. Barangkali banyak orang merasa bahagia tanpa pernah membaca novel, puisi, cerpen, atau menonton pertunjukan teater. Dengan hal ini, orang beralasan yang tampaknya logis bahwa tanpa sastra manusia tetap dapat hidup. Dalam konteks ini, sekali lagi, kita bertemu dengan refleksi "keterbatasan" wawasan, untuk tidak menyebut naif.
           Barangkali saja orang tidak membaca novel, puisi, cerpen, atau tidak menonton pementasan teater, tetapi menikmati berbagai bentuk kesusastraan yang lebih sederhana. Orang pun dapat menikmati bentuk-bentuk transformasi sastra yang dapat "dikunyah" lebih lezat tanpa dibayangi oleh mitos sastra yang bercitra angker. Dalam bentuk yang lain, orang barangkali mengembangkan imajinasi berbagai aspek kehidupan yang diwujudkan dalam beragam bentuk kreasi. Di sini, sastra barangkali mendapatkan bentuknya dalam wujud permainan, seperti dikatakan Johan Huizinga (dalam Homo Luden, LP3ES, 1990).
           Saya kurang percaya ada orang yang betul-betul merasa utuh dalam hidupnya jika ia meminggirkan kebutuhan rohaninya, antara lain sastra dan seni. Pada masa keemasan negara komunis, penguasanya menindas kepercayaan rakyatnya terhadap tuhan dan agama sebagai cetusan rohani tertinggi, sastra dan seni menggantikan kedudukannya. Mereka menyalurkan rasa religiusnya melalui sastra dan seni dengan cara sembunyi-sembunyi. Dengan begitu, hadirnya sastra dalam hidup manusia mencerminkan utuhnya kehidupan itu, yang dalam konteks ini sekaligus menunjukkan utuhnya evolusi rohani manusia.(Gun)

Blog EntryJul 26, '08 1:56 PM
for everyone

Sejarah Musik Klasik Barat

Zaman Pertengahan

(476 – 1450)

Zaman Renaisans

(1450 – 1600)

Zaman Barok

(1600 – 1750)

Zaman Klasik

(1740 – 1830)

Zaman Romantik

(1815 – 1910)

Abad ke-20

(1900 – 2000)

Abad ke-21

(2001 – sekarang)



    Zaman Renaisans adalah lahirnya musik klasik yang digubah pada zaman Renaisans, sekitar tahun 1450 sampai dengan 1600. Penentuan batas awal zaman musik ini sulit dilakukan karena tidak terdapat perubahan besar dalam musik pada abad ke-15, selain juga bahwa musik dalam perkembangannya mendapatkan ciri-ciri "Renaisans" secara bertahap. Zaman ini berlangsung sesudah zaman Pertengahan dan sebelum zaman Barok. Beberapa komponis dari zaman ini adalah Giovanni Pierluigi da Palestrina, Orlande de Lassus, dan William Byrd.                                                                                                                        Zaman Barok adalah lahirnya musik klasik Barat yang digubah pada zaman Barok (Baroque), kira-kira antara tahun 1600 dan 1750. Zaman ini berlangsung sesudah Zaman Renaisans dan sebelum zaman Klasik. Sebenarnya, kata "Barok" itu berarti "mutiara yang tidak berbentuk wajar", sangat pas dengan seni dan perancangan bangunan pada era ini; kemudian kata ini juga dipakai untuk jenis musik itu. Beberapa komponis zaman Barok adalah Claudio Monteverdi, Henry Purcell, Johann Sebastian Bach, Jean-Philippe Rameau, George Frideric Handel, dan Antonio Vivaldi.
    Pada zaman tersebut, piano belum ditemukan, dan komposisi dikarang untuk hapsicord. Partitur musik di zaman Barok ditandai dengan tidak adanya iringan atau polifoni. Karya JS Bach untuk hapsicord lazim mempunyai dua melodi atau lebih untuk tangan kanan dan tangan kiri.  
    Musik Barok lazimnya hanya mencerminkan satu jenis emosi saja. Dibanding dengan musik Klasik dan Romantik, musik Barok jarang mempunyai modulasi atau rubato. Untuk komposisi piano, pedal jarang digunakan saat memainkan musik Barok.
    Zaman Klasik
atau periode Klasik dalam sejarah musik Barat berlangsung selama sebagian besar abad ke-18 sampai dengan awal abad ke-19. Walaupun istilah musik Klasik biasanya digunakan untuk menyebut semua jenis musik dalam tradisi ini, istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut musik dari zaman tertentu ini dalam tradisi tersebut. Zaman ini biasanya diberi batas antara tahun 1750 dan 1820, namun dengan batasan tersebut terdapat tumpang tindih dengan zaman sebelum dan sesudahnya, sama seperti pada semua batasan zaman musik yang lain.
    Zaman klasik berada di antara zaman Barok dan zaman Romantik. Beberapa komponis zaman klasik adalah Joseph Haydn, Muzio Clementi, Johann Ladislaus Dussek, Andrea Luchesi, Antonio Salieri dan Carl Philipp Emanuel Bach, walaupun mungkin komponis yang paling terkenal dari zaman ini adalah Wolfgang Amadeus Mozart dan Ludwig van Beethoven. Ciri musik pada zaman Klasik : 1. Menggunakan peralihan dinamik dari lembut sampai keras atau (cressendo)dan dari keras menjadi lembut(decrssendo). 2. Perubahan-perubahan tempo dengan percepatan atau (accelerando) dan perlambatan(ritardando). 3. Hiasan / ornamentik diperhemat pemakaiannya. 4. Pemakaian akord 3 nada.
    Zaman Romantik dalam sejarah musik Barat berlangsung dari sekitar awal 1800-an sampai dengan dekade pertama abad ke-20. Zaman ini berlangsung sesudah zaman Klasik dan sebelum zaman modern.      
    Musik zaman Romantik dikaitkan dengan Gerakan Romantik pada sastra, seni, dan filsafat, walaupun pembatasan zaman yang digunakan dalam musikologi sekarang sangat berbeda dari pembatasan zaman ini dalam seni yang lain (yaitu 1780-an sampai dengan 1840-an). Beberapa komponis dari zaman ini adalah Franz Schubert, Johann Strauss, Sr., Felix Mendelssohn, Frédéric Chopin, Robert Schumann, Richard Wagner, Giuseppe Verdi, Hector Berlioz, dan Johannes Brahms.(Gun)

 

 




Blog EntryJul 26, '08 1:25 PM
for everyone

Puisi Indonesia, kiranya, tidak pernah selesai mencari bentuk-bentuk operasional bahasa. Setelah sukses dalam kemendayuan pada Pujangga Baru, ketajaman dan efektivitas dalam Chairil—diteruskan oleh Subagio, Sapardi, dan Goenawan—kini ada gejala bahasa yang tidak pernah ditemukan dalam bahasa puisi sebelumnya. Ialah konstruksi bahasa skizofrenia. Apakah telah tercipta bahasa estetik puisi skizofrenia? Bagaimanakah operasional estetik teks puisi skizofrenia?

1
Istilah skizofrenia berasal dari psikoanalisis Freud. Istilah ini digunakan untuk menyebut penyakit yang ditandai dengan terpecahnya identitas kepribadian, tampak antara lain dalam ketidaksesuaian antara fungsi-fungsi intelektual dan fungsi-fungsi afektif. Penderita skizofrenia yang belum parah, dalam batasan tertentu, masih dapat berinteraksi dengan masyarakat. Tentu saja, masyarakat mesti sedikit sabar dalam memahami ucapan-ucapan yang seringkali tidak logis, tidak sesuai dengan logika umum masyarakat. Tata bahasa yang digunakan mungkin benar tetapi kategori pengisinya, sering kali, kacau, atau sebaliknya.
Adalah Roman Jakobson (1895-1982), seorang ahli bahasa kelahiran Rusia, menerapkan model bahasa Saussure terhadap pengidap skizofrenia. Hasilnya ada dua model kesalahan bahasa yaitu, pertama kekurangan dalam substitusi (paradigmatik) akan mengambil jalan menuju ekspresi metonimis, kedua kekurangan dalam kombinasi (sintagmatik) yang akan menjajarkan kata-kata khusus atau metafora. Pada kasus pertama, penderita masih menggunakan tata bahasa yang benar hanya saja kategorinya acak. Misalnya, ketika untuk mengidentifikasikan ”hitam”, akan dijawab dengan ”kematian”. Sedangkan pada kasus kedua, penderita sudah kesulitan dalam membina tata bahasa. Yang dilakukan, penderita menjajarkan beberapa kata yang berbeda-beda untuk tujuan yang sulit dimengerti. Misalnya, untuk menggambarkan orang yang sedang sakit, penderita akan bilang ”sapi, kursi dorong, suster, lantai, suntik, aduh!”
Model-model pengucapan penderita skizofrenia diadopsi oleh para pemikir postmodernisme dalam mencari alternatif logika berbahasa. Jacques Lacan (1901-1981), seorang ahli psikoanalisis postmodernisme, mendefinisikan skizofrenia sebagai putusnya rantai pertandaan, yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna. Seseorang telah menggunakan bahasa di dalam bawah sadarnya. Artinya, di dalam proses otak telah terjadi proses berbahasa, atau ada sebuah struktur yang mirip bahasa. Pemikiran-pemikiran tentang skizofrenia ini menandai kritik—mungkin keruntuhan—model oposisi biner bahasa dari Saussure. Lebih jauh lagi, skizofrenia menandai bangkrutnya logika pemikiran strukturalisme, berganti dengan post-strukturalisme.

2
Puisi-puisi Indonesia terkini mempunyai kecenderungan mempergunakan konstruksi bahasa skizofrenia dalam menyajikan bahasa estetik, sekaligus dalam mengungkapkan makna. Sebagai contoh dapat diperiksa puisi Afrizal berjudul ”Dalam Gereja Munster” bait ketiga berikut: Kereta telah disalibkan dalam gereja tua itu / berderak lagi / membawa remaja-remaja bercumbu / dan hari esok putih menggumpal / Aku tersedu / Lonceng-lonceng gereja berdentangan lagi memanggilmu.
Penyebutan larik /kereta telah disalibkan/ dalam puisi di atas menegaskan dua kesalahan berbahasa. Pertama, diksi ”kereta” hadir menggantikan diksi ”manusia”, sebab praktik penyaliban hanya dilakukan pada manusia. Ataukah secara konsep, diksi ”kereta” adalah manusia. Kedua, diksi ”disalibkan” hadir menggantikan diksi ”dijalankan”, sebab kereta sebagai kendaraan hanya bisa dikendarai atau dijalankan. Ataukah secara konsep, diksi ”disalibkan” adalah dijalankan. Sangat sulit diketahui duduk persoalannya.
Mendasarkan kajian pada model oposisi biner Saussure, larik /kereta telah disalibkan/ adalah suatu kejanggalan paradigmatik yang akut. Diksi ”kereta” berposisi sebagai subjek dan ”telah disalibkan” berposisi sebagai kata kerja. Berarti, secara sintagmatik (kombinasi) berhubungan. Tetapi secara paradigmatik, diksi ”kereta” dengan diksi ”salib” bila dilekatkan bersama-sama tidak dapat menghasilkan pemahaman. Kedua diksi tersebut pada akhirnya diposisikan sebagai metafor, diksi yang mewakili diksi-diksi lain—bahkan lebih daripada diksi.
Puisi-puisi Beni Setia antologinya Harendong juga memiliki kecenderungan skizofrenia yang berhasil. Seperti dalam puisi berjudul ”Ikan”: anakku menjadi bendera dan naik ke puncak / lewat tali dan orang-orang tengadah / : aku menenggak wiski dan nyanyi lantang / ”sudah bebas negeri kita” bagi yang di puncak.
Bait pada puisi di atas disusun melalui larik-larik dengan hubungan pengisahan dan komunikasi yang terpatah-patah. Ada diskontinuitas atau keterputusan—ciri ucapan-ucapan penderita skizofrenia—pada tiap penggalan larik. Ibarat seorang petutur/ pendongeng kisah dipenggal-penggal sehingga tidak mencipta alur yang linier. Dan sebagai sebuah teks puisi jadi, tentu saja, operasional bahasa estetik tersebut adalah sebuah kesengajaan. Perlu dicari dampak operasionalnya.
Pola diskontinuitas, kembali dalam sebuah kesengajaan teks, berarti usaha menolak pengisahan yang linier. Teks puisi yang utuh. Nirwan Dewanto pernah menulis tentang penyusunan teks sejarah, yaitu: kita akan menyadari bahwa setiap masyarakat, setiap sistem, menempuh jalan sejarah secara partikular. Tidak harus jalan lurus (linier), tetapi dapat berbelok tak terduga-duga. Dapat juga jalan melingkar, menemukan titik awal dalam keseimbangan baru, seperti daur ulang. Seperti dikatakan Levi-Strauss; kebudayaan adalah permainan seluruh sistem, seluruh paradigma, sehingga, dalam ruang kebudayaan kita akan melihat tidak hanya satu sejarah, tetapi sejarah-sejarah, ”awan debu sejarah-sejarah”.
Kiranya, puisi-puisi berciri estetik skizofrenia sedang memberi pelajaran tentang penyusunan sejarah. Nirwan Dewanto telah memberi konsep penulisan teks atau pembahasaan realitas. Lebih dari itu, puisi tidak hanya memberi konsep tetapi bentuk penyusunan. Bahwa kisah atau sejarah tidak mesti linier. Kisah bisa juga berbentuk diskontinuitas. Dampak bagus dari penyusunan kisah atau sejarah yang diskontinuitas adalah tiadanya pusat penceritaan. Yang ada, kisah-kisah kecil yang saling berdiri sejajar dan akhirnya membentuk satu kisah besar yang plural, saling melengkapi, saling menghubungi, dan saling menolak. Kisah diskontinuitas. Seperti, puisi-puisi di atas atau seperti yang sudah dicoba oleh Milan Kundera dalam novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa.

3
Teks puisi skizofrenia menyajikan narasi yang terpenggal-penggal. Hasilnya, tercipta lobang-lobang kosong yang mesti diproduksi sendiri oleh pembaca. Proses pembacaan teks puisi menjadi kegiatan mengisi lobang-lobang kosong—diskontinuitas—sehingga menjadi teks utuh sebagai kisah, sebagai syarat komunikasi. Seperti soal-soal ujian anak SD yang berupa kalimat tidak lengkap, dan siswa disuruh mengisi kekosongannya. Hanya saja, pada sebuah soal ujian, kebenaran pengisian ditentukan oleh penguji. Telah ada jawaban spesifik sebagai kriteria tunggal. Pada puisi, kebenaran pengisian tergantung kepada pembaca. Pengarang sudah melepas teks puisi kepada publik dan kepada publik pula nasib teks puisi ditentukan. Pertaruhan hanya terjadi pada cara publik membangun paradigma agar pengisian bersifat universal, dapat dipahami orang lain.
Kebebasan merakit dan mengisi kekosongan teks puisi adalah kebebasan personal yang, tentu saja, tidak terbebas dari jebak-polemik. Seperti seorang anak muda yang bermain play station, sejauh-jauh mempermainkan perilaku tokoh-tokoh dan kualitas ketangkasan ide serta geraknya, masih dibatasi dengan fasilitas-fasilitas dan titik jenuh mesin. Anak muda tersebut bebas menggerakkan kaki tokoh game tetapi tidak bisa menambah jumlah kaki, bebas menyerang musuh tetapi tidak untuk mengajaknya bercinta, boleh mendiamkan tokoh tetapi mesti mau menerima kekalahan, boleh maju dan terus maju ke level lebih tinggi tetapi ada level terakhir di mana play station tidak punya operasional lanjutan. Toh, tidak ada larangan untuk tidak peduli kepada play station, sama dengan tidak ada keharusan mengurusi play station. Hanya saja, ketika seseorang memasuki dunia play station, tawaran kebebasan bertukar rusuh dengan rambu-rambu dan tanda seru.
Setiap diksi dalam puisi telah terkutuk untuk menyandang makna literal. Makna yang ada berkat kesepakatan diam masyarakat, atau kadang kala, kreasi para pemegang kebijaksanaan linguistik. Dalam masyarakat, diksi-diksi dirakit untuk komunikasi dengan pola operasional yang fleksibel—asal ada saling pemahaman, operasional yang baku ada pada tata bahasa resmi (EYD). Diksi-diksi puisi dibentuk sebagai teks jadi dengan pola operasional yang menyimpang dari rakitan masyarakat, meskipun tidak sepenuhnya berbeda.
Diksi pada teks puisi dilekatkan pada operasional baru. Pembacaan akan gagal meraih makna dan kenikmatan apabila menggunakan pola operasional yang beredar atau dipakai dalam masyarakat. Pemaknaan hanya bisa diperoleh dengan cara membaca diksi-diksi secara terpisah. Diksi dibaca sebagai metafor. Setelah pemaknaan secara parsial, terpisah, dicari operasional utuh yang menghasilkan pemaknaan teks. Lagi-lagi, pembaca yang ditekankan untuk memproduksi wacana.
Seorang pembaca mungkin, dari rekayasa sistem operasional bahasa, sudah menemukan makna. Merasa sudah menemukan makna sebenarnya dari sebuah puisi. Tetapi memang ada orang-orang tertentu, merasa tidak puas dengan hasil pembacaan pertama. Pembacaan dilanjutkan berulang-ulang untuk memperoleh variasi-variasi pola operasional bahasa, variasi-variasi makna. Pada ”puisi cerdas”—meminjam istilah S. Yoga—pembaca dimungkinkan memperoleh tumpah ruah ragam bahasa dan menikmati macam-macam pusaran makna. Pembacaan dengan pola operasional bahasa yang berlainan, bisa jadi, menghasilkan makna yang berbeda. Makna yang saling mendukung pada sublimasi makna atau makna yang bertentangan sehingga tidak ada kepastian orientasi tunggal, atau deretan makna yang tidak berhubungan sama sekali.
Model bahasa skizofrenia dalam bahasa estetik puisi berarti melegalkan bahasa tersebut sebagai model pembahasaan tersendiri. Bersanding-jajar dengan—atau menggantikan—model oposisi biner Saussure yang hanya melegalkan penafsiran tunggal.
Mengakhiri bahasan tentang bahasa estetik skizofrenia, penulis ingat bahwa sebuah karya sastra senantiasa mencipta sebuah realitas, sebuah masyarakat. Pada kasus tersebut, tercipta sebuah masyarakat skizofrenia. Masyarakat pengguna ragam bahasa skizofrenia. Pada masyarakat tersebut, mungkin, seorang guru bebas bertugas di kelas sekolah dengan memakai pakaian preman. Seorang pelajar teladan, sesaat sesudah penerimaan penghargaan oleh kepala sekolah, akan mengambil minuman bersoda tinggi, mengocoknya keras, dan menyemprotkannya ke seluruh hadirin, seperti yang biasa dilakukan Pablo Montoya sehabis menjuarai salah satu seri F1.


Baudelaire adalah salah satu penyair Prancis terkenal pada abad IX. Karya besarnya adalah kumpulan puisi yang berjudul Les Fleurs du Mal (LFM).  Baudelaire tak hanya dikenal sebagai penyair yang menganut aliran romantisme, tetapi juga penyair klasik dan sebagai seorang penyair modernis pertama (Baudiffier 1992:10). Dalam hal inspirasi, Baudelaire terlihat banyak dipengaruhi romantisme. Hal itu mungkin bisa dilihat dari bagaimana ia menggunakan bahasa dan memilih kata-kata dalam karya-karyanya. Tetapi jika dilihat dari bentuk puisinya, dia masih menggunakan model klasik, yaitu dengan rima yang teratur.

LFM diterbitkan pertama kali pada 1857. Pada penerbitan awalnya, LFM sempat dicekal peredarannya bahkan Baudelauire dipenjara karena LFM dianggap sebagai suatu karya yang terlalu seronok. Tetapi hal itu tidak menyebabkan Baudelaire berhenti berkarya. LFM terbit kembali pada 1961 dengan jumlah puisi sekitar 129 pada edisi yang kedua. Hingga kematiannya, Baudelaire terus berkarya dan menambahkan karya-karyanya pada LFM.

LFM banyak mengangkat tema tentang tragedi  manusia yang mendua. Satu kepada Tuhan dan yang lain kepada setan. Kejemuan akan kenyataan dunia (spleen ) dan harapan akan kehidupan yang lebih nyaman dan tenang (ideal). Selain itu Baudelaire juga mengangkat tema tentang cinta dan wanita yang mungkin terinspirasi oleh hubungannya  dengan Jeanne Duval.

Tema lain yang juga menjadi inti dalam LFM adalah Correspondances, bahwa segala sesuatu di dunia ini  selalu mempunyai hubungan dengan sesuatu yang lain yang ada di dunia lain yang terkadang tidak terjangkau oleh akal manusia, wangi, warna, dan bunyi selalu berpadu.

Baudelaire membagi LFM dalam beberapa bagian  antara lain: (1) Spleen et Ideal(SI), (2) Tableaux Parisiens (TP), (3) Le Vin (LV), (4) Fleurs Du Mal (FM), (5) Revolte (R), dan (6) La Mort (LM).

SI merupakan bagian puisi yang  paling banyak dan paling kaya. Karena pada bagian inilah Baudelaire banyak meletakkan puisi –puisinya dengan tema-tema di atas. Puisi-puisinya kebanyakan menunjukkan kegelisahan, kejemuan akan hidup, dan gambaran-gambaran tentang negri khayalan yang didambakannya . Dalam SI ini Baudelaire  mencoba melawan kejenuhannya dengan mengarahkan diri pada cinta dan puisi dengan kondisi penyair dan misi yang seharusnya dimiliki penyair.

Berikut ini kita perhatikan Les Phares (LP) dan Moesta et Errabunda (ME) yang merupakan puisi –puisi yang menjadi bagian SI. Dari kedua puisi tesebut kita coba untuk menemukan pesan yang ingin disampaikan Baudelaire tentang negeri khayalan yang diharapkannya dan tentang situasi dunia yang menjemukannya.

 

Menurut Baudiffier, Baudelaire mengajak para pencipta, dalam hal ini seni, untuk menunjukkan perasaan mereka akan jaman  dan memahami gerakan  sejarah di abad ketika mereka hidup. Dan melalui LP sepertinya Budelaire mencoba mewujudkan keinginan itu. Dia menyebutkan beberapa pelukis  besar dunia dan seperti memberi ulasan tentang masing-masing karya mereka untuk menggambarkan kondisi manusia dalam satu masa ketika masing-masing pelukis tersebut berkarya.

Bait pertama ,Rubens, suatu kondisi hidup yang seperti sungai kekhilafan dan kebun kemalasan. Layaknya sungai dengan aliran air yang tak henti, demikianlah dunia penuh dengan kekhilafan-kekhilafan yang tak akan pernah berhenti dan habis.Dan kebun adalah tempat tanaman hidup ,berakar, berkembang dan berbuah. Demikian juga dunia. Tempat kemalasan terus berkembang .Tapi, meskipun dunia adalah tempat yang tidak baik , manusia tidak dapat menghindar. Sebab di dunialah manusia harus hidup. Dan kehidupan itu terus berlangsung  dan berubah-ubah tanpa henti Seperti halnya udara di angkasa yang tak akan henti bergerak dan seperti laut yang terus bergolak.

Bait kedua. Leonard de Vinci. Melalui lukisannya Baudelaire mencoba menggambarkan satu tempat  yang miterius. Tempat itu dilukiskan sebagai satu tempat yang dalam, jauh dari jangkauan manusia dan suram. Dan di tempat itu mahkluk lain yaitu para malaikat hidup dan masing-masing sepertinya menyimpan satu misteri atau rahasia tentang kehidupan. Mungkin hal ini menujukan kepercayaan Baudelaire akan adanya satu tampat di luar akal manusia .

Bait ketiga,Rembrandt. Dalam Petits Poemes en Proses, bagian XLVIII- N’importe ou hors du monde, Baudelaire  pernah menyatakan bahwa hidup ini seperti rumah sakit tempat masing-masing penyakit  mempunyai kenginan untuk berpindah dari satu tempat tidur ke tempat tidur yang lain. Tempat satu masalah menimpa manusia yang satu ke manusia yang lain Pada Bait ini kembali Baudelaire memilih kata rumah sakit  untuk memetamorkan  kehidupan pada masaRembrandt. Menurut Baudelaire, hidup ini penuh dengan kabar-kabar tentang  peristiwa yang terjadi, filsafat-filsafat. Dan di tengah banyak terjadinya peristiwa-peristiwa itu  , manusia sudah tidak lagi memperdulikan agama atau kepercayaan.(agama atau kepercayaan disimbolkan dengan salib besar.)Bahkan para kaum suci , orang-orang yang taat dengan agama secara sadar atau tidak mengucapkan doa-doa yang seolah-olah mereka lakukan dengan sungguh-sungguh tetapi yang sebenarnya tidak tulus bahkan berisi hujatan kepada Tuhan. Baris ketiga dapat juga ditafsirkan bahwa agama hanya menjadi kedok beberapa orang untuk membenarkan filsafat mereka.

Bait keempat. Pada bait ini sepertinya Baudelaire ingin mengungkapkan tentang satu masa di mana orang –orang penganut agama Kristen sudah mulai berhubungan dengan dewa-dewa.

Bait kelima. Coleres de Boxeur. Bait ini menggambarkan satu masa  ketika manusia hidup penuh dengan kesombongan-kesombongan duniawi. Kebanggaan karena berhasil meraih kebahagiaan atau kemewahan yang didapatkan dengan cara yang ditawarkan oleh setan

Bait keenam. Watteau. Pada bait ini Baudelaire meminjam lukisan Watteau yang banyak sekali mengangkat tema tentang pesta atau pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh para pria dan wanita dengan gaun pesta mereka. Mungkin Baudelaire ingin memperlihatkan satu era ketika hidup seperti carnaval. Yaitu satu pesta yang biasanya diadakan setelah perayaan keagamaan. Pesta-pesta tersebut menjadi tempat untuk berpesta pora oleh  orang-orang yang hadir seperti halnya kupu-kupu ketika berada di alam yang indah.Tujuan meraka tak lebih dari sekedar mencari hiburan bagi hati mereka yang kosong dan hampa.Dan kebahagian yang mereka dapatkan hanyalah kebahagiaan semu dan sesaat.

Bait ketujuh. Goya. Hidup adalah seperti  mimpi buruk. Bahwa terkadang di dunia ini kita  menemukan hal-hal yang tidak dinalar oleh akal manusia.Ataupun hal-hal  mistik seperti acara pemujaan setan yang mungkin banyak terjadi pada masa itu. Janin yang dikorbankan pada pertengahan sabat, anak-anak kecil yang telanjang. Semua dilakukan untuk memuaskan setan. Mungkin hal ini menjadi gambaran bahwa pada masa itu banyak manusia yang melakukan hal-hal untuk mendapat pertolongan dari setan.

Bait ke delapan . Delacroix adalah pelukis favorit Baudelaire. Tak heran jika dia mengikutkan juga Karya Delacroix pada puisinya ini. Lukisan –lukisan Delacroix banyak yang merekam darah.Lukisan ini sepertinya dipakai Baudelaire untuk mewakili satu masa di mana peperangan sedang terjadi di banyak tempat.Di mana-mana terjadi pertumpahan darah. Suasana hidup menjadi meyedihkan, tidak menyenangkan (sous un ciel chagrin). Dan orang-orang tak lagi merasa asing dan takut karena desing peluru terdengar seperti satu alunan musik.(Weber adalah seorang composer romantik dari Belanda).

Pada bait kesembilan dan kesepuluh, baudelaire mengatakan bahwa masing masing lukisan yang dibuat oleh para pelukis dunia yang  telah disebutkan di atas menjadi gambaran tentang keadaan hidup manusia dan sebagai suatu ungkapan perasan manusia( terikan, jeritan, sumpah serapah dst.) akan dunia ini. Itulah kondisi dunia yang tak pernah tetap. Kondisi yang diekspresikan melalui lukisan-lukisan itu,  seperti halnya gema yang terus diulang, menjadi satu karya yang akan terus dipajang dan disaksikan oleh orang-orang yang tidak dapat menyaksikan langsung apa yang telah terjadi dengan kehidupan sebelumnya.Dan semua ini ditujukan pada manusia- manusia yang terlena dengan angan-angan mereka akan kehidupan surgawi(bait 9 baris 4) dan bagi manusia yang kehilangan arah dalam menjalani kehidupan mereka(bait 10, baris 4) Seperti halnya mercusuar sebagai satu alat yang dipakai untuk menunjukan arah bagi para pelaut , Baudelaire menilai bahwa karya-karya besar tersebut  menjadi satu alat yang membantu manusia untuk menunjukan arah hidup mereka. Dan ini dilakukan dengan reflesi yang diharapkan dilakukan setelah mengerti akan pesan yang disampaikan melalui lukisan. Sebab hidup akan tetap berjalan seperti dahulu, pembunuhan akan tetap terjadi dan baru akan berhenti atas kehendak  Sang Pencipta (Bait 11).

Puisi ini menggambarkan satu tempat yang menjadi idaman. Satu tempat yang kondisinya berlawanan dengan kondisi hidup di dunia

Dalam puisi ini Baudelaire banyak menggunakan tanda baca yang mengakibatkan pada kalimat yang sama menimbulkan arti yang berbeda.

Pada bait pertama Baudelaire mengarahkan ucapan pada seseorang yang bernama Agatha, tetapi pertanyaan itu dapat saja ditujukan pada dirinya sendiri. Dia bertanya pernahkan satu saat hati kita merasa sepi dan rindu akan suasana lain. Suasana yang berbeda dengan yang ada di dunia yang baginya najis,kotor,dan hina.dan tempat yanglain itu dibayangkannya sebagai tempat seluas samudara, penuh dengan hal- hal indah dan nyata. Tempat keindahan yang tidak semu yang suci dan nikmat(seperti halnya sebuah keperawanan. Kerinduannya akan tempat itu ditegaskannya kembali dengan mengulang kembali pertanyaan pada baris pertama.

Pada bait kedua Baudelaire menggambarkan tempat yang diidamkannya itu seperti laut yang luas yang dapat memberikan perasaan tenang pada setiap orang yang sedang berada di sana. Tempat kita dapat sejenak melupakan permasalahan hidup yang membebani manusia. Perasaan tenang itu mungkin juga ditimbulkan oleh adanya deburan ombak yang bergulung berbaur dengan desiran suara angin. Suara  itu menjadi seperti lagu nina bobok yang mengantarkan tidur manusia.

Pada bait ketiga Baudelaire semakin menunjukan kerinduannya akan tempat yang indah itu dengan berulang kali memakai tanda-tanda seru.Burung Fregat adalah satu jenis burung yang sering melakukan perjalanan jauh. Rupanya Baudelaire ingin menunjukan keinginannya untuk pergi jauh dari bumi ini dengan meminta sang burung untuk membawanya terbang. Dan layaknya kereta yang berjalan cepat, demikian juga dia ingin dengan cepat dibawa pergi. Dan dalam kesedihan hatinya dia ingin pergi dari situasi dunia yan gpenuh dengan penyesalan, kejahatan, dan kesedihan.tapi pada baris terakhir Baudelaire sendiri ragu apakah kereta dan burung Fregat dapat membawanya pergi dari dunia yang membuatnya  jenu

Kali ini pada bait ke-4 Baudelaire sepertinya menyadari bahwa tempat yang menjadi impiannya itu sangat jauh dan secara nyata dia menyebutkan bahwa tempat idamannya itu adalah surga.Karena tempatnya yang jauh dari dunia yang kotor, tidak indah maka  tempat itu tentunya merupakan tempat yang memiliki suasana dan kondisi yang sangat berbeda dengan suasana di dunia. Tempat itu digambarkan sebagai tempat yang indah  dengan langit yang selalu cerah di mana yang ada hanya cinta dan kesenangan. Dan di tempat itu terdapat segala sesuatu yang dicintai memang layak untuk dicintai. Tidak seperti di dunia dimana terkadang manusia mencintai hal-hal yang sebenarnya tidak layak dicintai. Seperti kesenangan semu, harta yang fana, gelar dll. Pada baris terakhir Baudelaire menunjukkan satu kejengkelan ( ditunjukkan dengan tanda baca seru pada akhir kalimat) karena  dia sadar surga itu terletak jauh dengan jarak yang tak terhitung. 

Pada bait kelima Baudelaire menggambarkan surga sebagai satu tempat dengan cinta suci, cinta yang biasanya dialami oleh kanak-kanak.pada baris keempat sepertinya Baudelaire menyatakan bahwa keindahan tempat itu tidak sama dengan keindahan  yang dirasakan ketika mabuk.

Pada bait terakhir, Baudelaire menyatakan bahwa surga masih misteri baginya. Surga itu menyimpan kesenangan-kesenangan yang sebetulnya   masih misterius. Baudelaire juga menyayangkan betapa jauhnya surga itu. Lebih jauh dari India dan Cina, negara-negara yang pernah dikunjunginya. Dan dia tidak tahu bagaimana cara dia untuk dapat mencapai tempat itu. Karena tempat itu tidak medekat walaupun kondisi dunia sudah sangat menyedihkan, dan manusia termasuk dirinya merasa  sangat menderita dengan kehidupan yang menjemukan. Tempat itu tak juga datang meskipun sepertinya kata-kata yang dianggap doa sudah berulang kali diucapkan. Dan untuk kesekian kali Baudelaire ragu akan gambarannya itu. Apakah tempat yang dilukiskannya itu benar ada dan seandainya ada benarkah tempat itu seindah tempat yang dibayangkannya.

Puisi ini selain dapat menggabarkan kondisi dunia lain yang ada di pikiran Baudelaire , dapat juga dipakai untuk menunjukan gambaran Baudelaire tentang kondisi dunia nyata dengan cara mengoposisikan beberepa kata tertentu. Misalnya ketiga Baudelaire melukiskan tempat itu sebagai satu tempat yang wangi dan cerah (bait 4) maka dunia adlah tempat yang kotor dan suram.

Kedua puisi di atas merupakan sebagian puisi Baudelaire yang mengangkat tema kejemuan manusia dan angan-angannya akan surgawi.(Gun)

Blog EntryJul 26, '08 1:05 PM
for everyone
Tristesse
J’ai perdu ma force et ma vie,
Et mes amis et ma gaîté ;
Qui faisait croire à mon génie.

Quand j’ai connu la Vérité,
J’ai cru que c’était une amie ;
Quand je l’ai comprise et sentie,
J’en étais déjà dégoûté.

Et pourtant elle est éternelle
Et ceux qui se sont passés d’elle
Ici-bas ont tout ignoré.

Dieu parle, il faut qu’on lui répondre.
Le seul bien qui me reste au monde
Est d’avoir quelquefois pleuré.

Kesedihan
Ku kehilangan tenaga dan jiwa ku,
Dan teman-teman ku juga gairah-ceria ku;
Mereka yang percaya akan kejeniusan ku.

Manakala ku tahu kebenaran hakiki,
Ku kira dia lah teman-perempuan ku;
Begitu ku ketahui dan mengenalnya,
Aku sudah merasa jenuh-jera.

Meski pun demikian dia abadi
Dan mereka yang telah berurusan dengannya
Di kolong langit ini semua tanpa peduli.

Tuhan bersabda, mestinya orang menyambutNya.
Satu-satunya milik ku yang tersisa di dunia ini
Iyalah kadang kala bisa mengalirkan air mata.

Blog EntryJul 26, '08 1:02 PM
for everyone
Demain, dès l’Aube
Demain, dès l’aube, à l’heure où blanchit la campagne,
Je partirai. Vois-tu, je sais que tu m’attends.
J’irai par la forêt, j’irai par la montagne.
Je ne puis demeurer loin de toi plus longtemps.

Je marcherai les yeux fixés sur mes pensées,
Sans rien voir au dehors, sans entendre aucun bruit,
Seul, inconnu, le dos courbé, les mains croisées,
Triste, et le jour pour moi sera comme la nuit.

Je ne regarderai ni l’or du soir qui tombe,
Ni les voiles au loin descendant vers Harfleur,
Et quand j’arriverai, je mettrai sur ta tombe
Un bouquet de houx vert et de bruyère en fleur.

Besok, Mulai Dinihari
Besok, mulai dini hari, selagi pedesaan memutih diri
Ku kan berangkat. Kau maklum, aku tahu dikau menunggu ku
Ku kan telusuri hutan, gunung ku daki,
Ku tak bisa lebih lama lagi tinggal jauh dari mu

Ku kan berjalan dengan pandang tercengkam pikiran
Tanpa melihat yang di luar tanpa suara yang didengar.
Sendiri, tak dikenal, punggung membungkuk, tangan bersilang,
Sedih, siang hari bagi ku kan seperti malam kelam.

Tak kan ku perhatikan keemasan malam datang menjelang
Pun tidak layar di kejauhan laju menuju Harfleur
Dan mana kala ku tiba, kan ku letakkan di atas makam mu
Serangkum rumpun hijau dan serangkum rumpun berkembang.

Mes Deux Filles
Dans le frais clair-obscur du soir charmant qui tombent,
L’une pareille au cygne et l’autre à la colombe,
Belles, et toutes deux joyeuse, ô douceur !
Voyez, la grande sœur et la petite sœur !
Sont assises au seuil de jardin, et sur elles
Un bouquet de l’œillets blancs aux longs tiges frêles,
Dans une urne de marbre agité par le vent,
Se penche, et les regard, immobile et vivant,
Et frissonne dans l’ombre, et semble, au bord du vase,
Un vol de papillons arrêté dans l’extase.

Dua Anak Gadis Ku
Dalam rayapan gelap-terang malam sejuk menyenangkan,
Yang pertama serupa angsa yang kedua seperti merpati,
Jelita, keduanya cerah ceria, oh, lemah gemulai!
Lihatlah, sang kakak sang adik
Duduk duduk di pinggir kebun, dan di atas mereka
Serangkum bunga anyelir putih bertangkai langsing panjang
Dalam jambang marmer terhembus angin goyang
Tersandar, menatap keduanya, tertegun dan hidup,
Bergetar dalam kelam, mengesankan, di tepi jambangan
Terbang sang kupu-kupu terhenti terpancang pandang tercengang.

Blog EntryJul 26, '08 12:57 PM
for everyone
L’Eternité
Elle est retrouvée.
Quoi? – L’Eternité.
C’est la mer allée
Avec le soleil.

Ame sentinelle,
Murmurons l’aveu
De la nuit si nulle
Et du jour en feu.

Des humains suffrages,
Des communs élans
Là tu te dégages
Et voles selon.

Puisque de vous seules,
Braises de satin,
Le Devoir s’exhale
Sans qu’on dise : enfin.

Là pas d’espérance,
Le supplice est sûr.

Elle est retrouvée.
Quoi ? – L’Eternité.
C’est la mer allée
Avec le soleil.

Keabadian
Ditemukannya kembali
Apa ? Keabadian
Adalah pasang surut lautan
Bersama matahari.

Jiwa penjaga,
Bisikan pengakuan
Malam sunyi sepi
Hingar bingar siang hari.

Dari hasrat kemauan manusia,
Elan yang sama,
Di sana lah kau beranjak pergi:
Aataukah mengangkasa.

Tergantung dirimu sendiri belaka
Bara menyala,
Tugas kewajiban terlaksana
Tanpa orang bilang : akhirnya.

Ditemukannya kembali
Apa ? Keabadian.
Adalah pasang surut lautan
Bersama matahari.

Le dormeur du Val
C’est un trou de verdure où chante une rivière,
Accrochant follement aux herbes des haillons
D’argent ; où le soleil, de la montagne fière,
Luit : c’est un petit val qui mousse de rayons.

Un soldat jeune, bouche ouverte, tête nue,
Et la nuque baignant dans le frais cresson bleu,
Dort ; il est étendu dans l’herbe, sous la nue,
Pâle dans son lit vert où la lumière pleut.

Les pieds dans les glaïeuls, il dort. Souriant comme
Sourirait un enfant malade, il fait un somme :
Nature, berce-le chaudement : il a froid.

Les parfums ne font pas frissonner sa narine ;
Il dort dans le soleil, la main sur sa poitrine,
Tranquille. Il a deux trous rouges au côté droit.

Yang Tertidur Di Lembah
Adalah sebuah lubang di hamparan hijau di mana sebatang kali bernyanyi
Berpeluk seerat-eratnya pada rangkum rerumputan jerami
Keemas-emasan, di mana mentari, di atas gunung megah,
Bersinar : adalah sebuah lembah yang membiaskan sinar.

Sorang serdadu muda, mulut ternganga, telanjang kepala
Dan tengkuk tenggelam dalam jerembak biru segar,
Tertidur : dia terlentang di atas rerumputan, bernaung mega,
Pucat pasi di atas ranjang hijaunya bermandikan sinar.

Kedua belah kaki di antara rerumputan, dia tertidur. Senyum seperti
Senyuman bocah menderita sakit, dia terlena.
Alam, dekaplah dia erat hangat : dia lagi kedinginan !

Harum wangi-wangian tak mengusik hidungnya ;
Dia tertidur bersimbah cahya mentari, tapak tangan di atas dada
Diam tenang. Dua lubang merah menembus iga kanannya.

Faim
Si j’ai du goût, ce n’est guère
Que pour la terre et les pierres.
Je déjeune toujours d’air,
De roc, de charbons, de fer.

Mes faims, tournez. Paissez, faims,
Le pré des sons.
Attirez le gai venin
Des liserons.

Mangez les cailloux qu’on brise,
Les vieilles pierres d’églises ;
Les galets des vieux déluges,
Pains semés dans les vallées grises.

Le loup criait sous les feuilles
En crachant les belles plumes
De son repas de volailles :
Comme lui je me consume.

Les salades, les fruits
N’attendent que la cueillette ;
Mais l’araignée de la haie
Ne mange que des violettes.

Que je dorme ! que je bouille
Aux autels de Salomon.
Le bouillon court sur la rouille,
Et se mêle au Cédron.

Lapar
Jika ku berselera, tak lain ku ingin
Kecuali tanah dan batu batu
Ku makan sarapan selalu udara,
Batu karang, besi, batu bara.

Lapar ku, beralih. Tersisih, lapar,
Rerumputan nada suara.
Terpikat ular berbisa
Dari dalam belukar.

Makan lah bongkah batu yang dipecah belah,
Batu batu tua gereja ;
Gumpalan dari bencana banjir zaman dahulu,
Roti roti terpendam di lembah kelabu.

Serigala memekik di bawah rumpun dedaunan,
Seraya memuntah kan bulu bulu indah
Ayam santap-lahapannya :
Serupa itu pula aku menelan hidangan.

Sayuran, buah-buahan
Tak lain kecuali menanti dipanen,
Tetapi labah-labah jerami
Tak lain yang dimamah kecuali bunga terlemah.

Apakah ku tertidur! ataukah ku rebus
Di altar Salomon
Rebusan mengalir deras di saluran
Dan bercampur baur dalam Céderon.





Pages:12